Minggu, 25 November 2012

bentuk model bisnis dengan open source

Mengenali salah satu bentuk model bisnis open source : Hybrid!

Hybrid Business Model
Hybrid Business Model
Hybrid merupakan model bisnis open source yang banyak diterapkan banyak perusahaan raksasa. Terhitung MySQL, Adobe dan perusahaan lainnya telah mengaplikasikan model bisnis hybrid. Kesuksesan tentu yang didapatkan dari model bisnis ini. Salah satu ciri khas dari model hybrid adalah satu produk dengan "dua aturan" dalam penggunaannya. Namun. banyak kalangan yang meragukan model bisnis seperti ini. Adanya kekhawatiran karena adanya "dua aturan" membuat kinerja menjadi tidak fokus. Lalu apa model bisnis hybrid itu sebenarnya?
"Hybrid business models" menjadi kata yang populer namun banyak juga yang tidak tahu apa itu sebenarnya. Model bisnis hybrid lebih menitikberatkan pada lisensi. Sementara ini terdapat 3 jenis lisensi yaitu open source, bukan open source dan proprietary. Open source memiliki lisensi bebas untuk dimiliki dan source code-nya dapat diketahui oleh publik. Bukan open source yang dimaksudkan adalah model bisnis yang menjual produk dengan harga yang sangat rendah dengan tujuan market share semakin besar. Lisensi yang digunakan berbayar namun bisa jadi source code diberikan kepada publik. Proprietary memiliki lisensi yang ketat dimana source code tidak diketahui oleh publik.
Model Hybrid berada ditengah-tengah bentuk lisensi open source dan bukan open source. Ada 3 hal yang menjadi fokus pada model bisnis hybrid yaitu merubah lisensi source code, merubah layanan terhadap user yang berbeda dan merubah layanan pada tipe user yang berbeda. Contohnya, terdapat perusahaan yang menggunakan 2 lisensi yaitu lisensi tradisional dan lisensi open source pada produk yang sama. Penggunaan dua lisensi tergantung pada :
1. Perbedaan user semisal organisasi for-profit dan non-for-profit.
2. Perbedaan tipe user seperti penggunaan intranet atau extranet, penggunaan satu platform atau lebih.
3. Perbedaan permintaan user terhadap source code / produk.
Model bisnis hybrid tidak selalu mendapatkan tanggapan yang positif. Pada Konferensi SIIA On-Demand di Amsterdam dibahas tentang model bisnis hybrid. Pembicara Dave Mitchell (IBM), Erik Troan (rPath) dan Phil Wainwright (Procullux Ventures) mengatakan model bisnis menjadi favorit bagi banyak perusahaan saat ini. Namun, ini akan menjadi masalah ketika satu perusahaan menjalankan dua jalur bisnis yang berbeda secara bersamaan. Kecuali bila dua jalur bisnis ini adalah dua perusahaan yang berbeda tentu tidak ada masalah. Dengan dua jalur yang berbeda maka membuat perusahaan mengatur dua tim yang berbeda pula. Ini tentu akan sangat membingungkan dan membutuhkan biaya lebih dibandingkan menjalankan satu jalur bisnis. Walaupun model bisnis ini dipandang tidak optimal namun hybrid akan berjalan dalam waktu yang lama.
Saat ini, The Open Group dan Troll tech telah sukses mengaplikasikan model bisnis ini. Salah satu kesuksesan trolltech dengan ditunjukkan dalam artikel Trolltech Wins “Open Source Company with Most Potential” Award. Adobe ternyata juga tertarik dengan model bisnis hybrid. Ini ditunjukkan dengan keluarnya produk baru adobe yaitu Adobe Media Player (AMP). Yang menarik dari produk ini adalah kebebasan penggunaan AMP dalam berbagai platform, melindungi content video ( seperti iTunes ) dan menjual DRM. Penjelasan Laurel Reitman (Adobe) tentang produk ini dapat dilihat di beet.tv's.
Model bisnis hybrid memang terkesan masih belum "matang" namun banyak perusahaan sudah menjalankan model bisnis ini. Ada hal yang menarik disini, Microsoft juga memberikan perhatian pada model bisnis ini di acara open Source Conference 2008..

OsConf 2008
OsConf 2008
Referensi : http://hecker.org/writings/setting-up-shop

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar